Free Hosting  

 

PERBUATAN-PERBUATAN YANG DAPAT 

MEMBATALKAN SHOLAT

Perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan sholat yaitu ada beberapa perkara:

Masalah 1

Hadats kecil dan besar, karena hadats dapat membatalkan sholat dimana saja berada di dalam sholat walaupun ketika  mengucapkan huruf mim dan taslim  sesuai pendapat  yang kuat, sengaja atau lupa kecuali bagi orang  yang beser dan orang yang sakit perut  dan orang yang mengeluarkan darah istihadhah.

Masalah 2

Bersedakap, yaitu meletakkan salah satu dari kedua tangan pada yang lain dengan sengaja sesuai pendapat yang kuat sebagaimana sebagian orang-orang Islam melakukannya karena tiada pentasyri'annya dan tidak mengapa melakukan sedakap dalam keadaan terpaksa.

Masalah 3

Menoleh ke arah belakang atau kanan atau kiri dengan seluruh badan bahkan diantara keduanya sekira  keluar dari menghadap ke arah kiblat, karena perbuatan sengaja dalam menoleh itu dapat membatalkan sholat.

Masalah 4

Sengaja berbicara walaupun dengan dua huruf yang tidak memiliki makna/arti serta lafadz yang diletakkan ketika lafadz itu dilafadzkan, bukan dengan tujuan al hidayah (cerita), sedangkan  lafadz tersebut tersusun  hanya dengan satu huruf maka tidak membatalkan sesuai  pendapat yang kuat. Dia tidak mengapa dengan menjawab salam Attahiyah (penghormatan) bahkan menjawab salam  dan dia sibuk melakukan  al qiro'ah dan selainnya maka tidak membatalkan sholat, apalagi qiyam sesuai batas ketika dia menjawab salam, akan tetapi dia telah melakukan perbuatan dosa karena meninggalkan perbuatan wajib sebagaimana dia  dan apabila seorang muslim yang memberi salam itu jauh sekira tidak mendengar jawaban maka tidak wajib menjawabnya  sesuai dengan pendapat yang dhohir dan tidak boleh menjawab salam tersebut dalam sholat.

Masalah 5

Tertawa (terbahak-bahak) walaupun dalam keadaan terpaksa. Dia tidak mengapa karena lupa (kalau dirinya sholat) sebagaimana tidak mengapa tersenyum walaupun dengan kesengajaan.

Masalah 6

Sengaja menangis tersedu-sedu karena kehilangan sesuatu dari urusan dunia dan bukan termasuk menangis tersedu-sedu karena suatu urusan akhirat atau mencari urusan dunia karena berharap dari Alloh SWT dan bagi yang belum bisa menahan isak tangisan yang dapat membatalkan sholat, maka yang lebih hati-hati mengulangi sholatnya bahkan wajib pengulangan sholat itu tidak lepas dari pendapat yang kuat.

Masalah 7

Seluruh perbuatan yang dapat menghapus perbuatan sholat, sekira perbuatan tersebut menafikan nama sholat, maka perbuatan itu membatalkan sholat baik dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja.

Masalah 8

Makan dan minum walaupun sedikit dapat membatalkan sholat sesuai pendapat yang lebih hati-hati  kecuali seseorang yang dahaga karena sibuk membaca do'a ketika melakukan sholat witir dari sholat malamnya, sedangkan dia bertujuan melakukan puasa pada hari itu apabila dia cemas dengan kedatangan waktu fajar kalau ditundanya.

Masalah 9

                       

Mengucapkan "amin" dengan sengaja setelah selesai membaca surat Al Fatihah, karena "amin" tiada pentasyri'annya, dan tidak mengapa mengucapkan "amin" karena lupa atau terpaksa.

Masalah 10

Ragu dalam bilangan sholat  selain sholat yang memiliki bilangan 4 roka'at (Dluhur, 'Ashr, dan Isya') dari sholat-sholat fardlu dan 2 roka'at  pertama darinya  sesuai dengan keterangan yang akan datang Insya Alloh.

Masalah 11

Menambah sesuatu bagian atau  menguranginya dalam rukun sholat secara mutlak dan selain  rukun dengan sengaja, dan tidak boleh memutus sholat fardlu  dalam keadaan tidak terdesak, sesuai dengan pendapat yang lebih hati-hati tidak juga memutus sholat nafilah dalam keadaan tidak terdesak sekalipun menurut pendapat yang kuat boleh memutusnya.

Sesuatu yang menyebabkan batal

di dalam Sholat

Masalah 1

Bagi yang tidak memiliki kesucian karena  berhadats dapat membatalkan sholatnya sengaja/lupa, mengetahui atau jahil, berbeda dengan kesucian dari khobats dan telah berlalu pemerinciannya  di dalam Bab Thoharoh dan seluruh syarat-syaratnya, adapun bila tidak memiliki sesuatu dari beberapa kewajiban sholatnya karena sengaja, maka dapat membatalkan sholat. Begitu juga bila menambahkan di dalam kewajiban-kewajiban  sholat karena sengaja dengan tujuan bahwa tambahan itu dari bagian sholat, maka sholatnya dinyatakan batal.

Masalah 2

Bagi yang kurang dari sesuatu kewajiban-kewajiban sholatnya karena lupa serta tidak mengingatnya  melainkan setelah melalui tempatnya, bila kekurangan itu berupa rukun maka sholatnya itu batal, bila bukan berupa rukun maka sholatnya itu benar, dan wajib baginya melakukan sujud sahwi serta meng-qodlo'  pada bagian sholat yang dilupakan setelah selesai melakukan sholatnya, bila bagian yang dilupakan itu berupa tasyahud atau salah satu dari kedua sujud. Dan tidak harus melakukan qodlo' selain dari keduanya kalau seseorang mengingatnya pada tempatnya maka dia harus melakukan susulan atasnya. Dan bagi yang lupa melakukan salam serta mengingatnya sebelum melakukan sesuatu yang dapat membatalkan sholat karena lupa atau  sengaja maka dia harus melakukan susulan atasnya dan apabila orang tersebut tidak memiliki kesempatan melakukan susulan itu maka sholatnya dinyatakan batal.

Masalah 3

Bagi  yang lupa melakukan roka'at terakhir kemudian dia mengingatnya setelah tasyahud sebelum melakukan salam, supaya dia berdiri dan mendatangi roka'at itu. Kalau dia mengingatnya setelah melakukan salam, dan sebelum melakukan sesuatu yang membatalkan sholatnya karena lupa, maka supaya dia berdiri serta menyempurnakan sholatnya. Kalau seseorang mengingatnya setelah salam supaya dia mengulangi sholatnya.

SYAK  (Keraguan dalam Sholat)

------------------------------------------------

Masalah 1

Bagi yang ragu dalam sholatnya dan dia belum mengetahui,, apakah dia telah melakukan sholat atau tidak bila keraguan itu ada setelah melewati waktu sholat, maka keraguan tersebut tidak dianggap dan dinyatakan dirinya telah melakukan sholat. Bila keraguan itu sebelum waktu sholat maka supaya dia mendatangi sholatnya. Dan suatu dugaan telah melakukan sholat atau tidak melakukannya memiliki hukum yang sama dengan keraguan.

Masalah 2

Keraguan itu tidak dianggap dalam sholat setelah melalui waktu sholat dan dinyatakan telah mendatangi sholat bila keraguan itu datang setelah waktu sholat berlalu dan apabila meragukan di dalam sholat pada saat waktu sholat sedangkan dia lupa mendatangi sholat  hingga waktu sholat itu berakhir maka wajib menggodlo'  sholatnya. Bila keraguan tersebut menyertainya setelah waktu sholat dan dia meragukan dalam mendatangi sholatnya.

Masalah 3

Hukum seorang yang banyak memiliki keraguan dalam melakukan sholatnya dan tiada melakukan sholat itu maka hukumnya tidak memiliki keraguan, serta diperincikan keraguan itu berada dalam waktu atau berada di luar waktu. Adapun orang yang was-was maka sesuai pendapat yang dhohir keraguan itu tidak dianggap sekalipun berada dalam waktu.

Masalah 4

Bagi yang ragu dalam sesuatu dari af'alussholah bila keraguan itu sebelum masuk pada perbuatan lain yang menjadi ketertiban atasnya maka wajib mendatanginya, sebagaimana bila seseorang meragukan pada takbiratul ihrom sebelum memulai qiro'ah  dan sebelum memulai isti'adzah atau seseorang ragu membaca surat Al Hamdu sebelum memulai pembacaan surat yang lain, bila setelah memasuki pada perbuatan yang lain yang menjadi ketertiban atasnya walaupun perbuatan itu mustahab, maka keraguan tersebut tidak digubris dan dia dianggap telah mendatanginya. tidak berbeda perbuatan yang lain merupakan bagian-bagian yang mandiri sebagaimana keterangan tersebut dahulu atau selainnya sebagaimana bila seseorang meragukan telah mendatangi awal pembacaan surat, sedangkan dia pada akhir pembacaan surat itu sekalipun sesuai dengan pendapat yang lebih hati-hati supaya mendatangi suatu yang diragukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Alloh SWT secara mutlak.

Masalah 5

Kalau seseorang meragukan perbuatan yang ia lakukan itu benar atau salah maka tidak dianggap setelah perbuatan tersebut dilakukan sekalipun dia memiliki kesempatan melakukan susulan, dan menurut pendapat yang lebih hati-hati agar perbuatan itu diulangi dengan tujuan mendekatkan diri kepad Alloh SWT, sesuai pendapat ikhtiyat ragu di dalam rukun sholat supaya menyelesaikan sholat itu tersebih dahulu kemudian mengulangi dengan sholat yang batu.

Masalah 6

Kalau seseorang ragu dalam taslim maka keraguan itu tidak dianggap bila dia telah melakukan perbuatan lain yang menjadi ketertiban setelah selesai dari sholatnya seperti melakukan ta'kib dan selainnya, atau melakukan sebagian perbuatan yang dapat menafikan sholat.

Ragu dalam Bilangan Roka'at Sholat Fardlu

------------------------------------------------------------------

Masalah 1

Tiada hukum bagi keraguan dalam bilangan roka'at bila keraguan itu hilang setelah memperoleh keyakinan, adapun kalau seseorang selalu ragu, keraguan tersebut dapat membatalkan sholat yang memiliki bilangan 2 roka'aat (Sholat Shubuh) dan sholat yang memiliki bilangan 3 roka'at (Sholat Maghrib) serta 2 roka'at pertama dari sholat yang memiliki bilangan 4 roka'at.

Dan keraguan itu tidak membatalkan dalam beberapa bentuk:

         Ragu diantara 2 dan 3 setelah menyempurnakan 2 sujud, maka ditetapkan 3 dan supaya dia mendatangi roka'at ke-4, setelah menyempurnakan sholatnya, maka dia melakukan 1 roka'at ikhtiyat dengan berdiri atau 2 roka'at dengan duduk dan yang lebih hati-hati, lagi lebih utama, mengumpulkan dari keduanya dengan mendahulukan 1 roka'at dengan berdiri setelah itu mengulangi (2 roka'at dengan duduk).

         Ragu diantara 3 dan 4 dalam tempat yang manapun juga, maka ditetapkan 4 dan hukum keraguan tersebut seperti keterangan yang lalu hanya saja harus mengutamakan 1 roka'at dengan berdiri.

         Ragu diantara 2 dan 4 setelah menyempurnakan 2 sujud, maka ditetapkan 4 dan supaya dia menyempurnakan sholatnya, setelah itu melakukan ikhtiyat dengan melakukan sholat 2 roka'at dengan berdiri.

         Ragu diantara 2, 3 dan 4 setelah menyempurnakan 2 sujud maka ditetapkan 4, dan menyempurnakan sholatnya kemudian melakukan ikhtiyat dengan melakukan sholat 2 roka'at dengan berdiri dan 2 roka'at duduk. Yang lebih hati-hati bahkan sesuai pendapat yang kuat mendahulukan 2 roka'at berdiri.

         Ragu diantara 4 dan 5 maka memiliki 2 bentuk:

ř     Setelah mengangkat kepala dari sujud yang terakhir maka ditetapkan 4 dan melakukan tasyahud serta salam kemudian melakukan 2 sujud sahwi.

ř     Ragu ketika dalam keadaan berdiri hal ini memiliki kesamaan diantara 3 dan 4 maka ditetapkan 4, serta wajib menggugurkan qiyam, setelah itu melakukan tasyahud dan salam, kemudian melakukan sholat 2 rokaat dengan duduk  atau  1 roka'at dengan berdiri.

         Ragu diantara 3 dan 5 ketika keadaan berdiri, hal itu tidak berbeda memiliki keraguan diantara 2 dan 4, maka supaya segera duduk dan dia melakukan perbuatan sesuai keraguan.

         Ragu diantara 3 dan 4 dan 5 ketika berdiri, hal itu kembali memiliki keraguan diantara 2, 3 dan 4 maka supaya segera melakukan duduk dan melakukan perbuatan sesuai keraguan.

         Ragu diantara 5 dan 6 ketika berdiri, hal itu kembali pada bentuk yang ke-5, serta yang lebih hati-hati pada bentuk ke-4 yang terakhir supaya mengulangi sholat setelah perbuatan itu.

Masalah 2

Keraguan dalam bilangan roka'at sholat selain bentuk-bentuk yang telah disebutkan menyebabkan kebatalan sholat.

Masalah 3

Kalau seseorang memiliki salah satu dari keraguan itu sedangkan dia tidak mengetahui apa yang harus dilakukan oleh dirinya, maka apabila waktu sudah terdesak atau tidak memungkinkan untuk mempelajarinya maka ditentukan atasnya supaya melakukan pertimbangan atau dugaan yang paling utama, atau dia memilih salah satu darinya yang paling memungkinkan. Kemudian  supaya dia menyempurnakan sholatnya dan mengulangi sholat itu sebagai perbuatan hati-hati bila waktunya tidak terdesak. Ia kalau memperoleh kejelasan setelah itu  ternyata tidak sesuai dengan kenyataan supaya dia mengulangi sholatnya sekalipun tidak dilakukan dalam waktu tersebut (terdesak). Dan bila waktu tidak terdesak sedangkan dia memiliki kesempatan untuk memperlajarinya  supaya dia membatalkan sholat dan mempelajari permasalahan itu, walaupun boleh baginya menyempurnakan sholat atau amal perbuatannya sesuai atas sebagian dugaan kemudian dia mempelajarinya, apabila perbuatan yang telah dilakukan itu sesuai maka perbuatan tersebut telah mencukupinya dan bila tidak sesuai supaya dia mengulangi sholatnya meskipun menurut pendapat yang lebih hati-hati supaya dia mengulangi sholatnya secara mutlak.

Masalah 4

Bagi yang tidak mampu melakukan sholat dengan berdiri, kemudian dia memperoleh salah satu dari beberapa keraguan yang dibenarkan dalam sholat, maka sesuai pendapat yang dhohir sholat ikhtiyat yang harus dilakukan dengan berdiri, dia boleh melakukannya dalam keadaan duduk.

Masalah 5

Tidak boleh dalam keraguan yang dibenarkan itu memutus sholat dan mengulanginya, bahkan wajib mengamalkan sesuai tugas dari keraguan yang ada dalam permasalahan sholat.

Masalah 6

Kalau seorang musafir berada pada salah satu tempat yang boleh memilih, kemudian dia memiliki niat meng-qosor sholat serta memiliki keraguan dalam bilangan roka'at sholat, maka tidak jauh dari pendapat yang benar menentukan perbuatan sesuai hukum keraguan dan dia harus memperbaiki sholatnya tanpa melakukan niat merubah sholat, akan tetapi tidak selayaknya meninggalkan ikhtiyat dengan masalah keraguan itu, setelah memiliki niat udul (pindah ke sholat yang lain) dan mengulangi sholatnya.

Keraguan yang Tidak Dianggap

---------------------------------------------

Terdapat  beberapa  perkara:

a)      Keraguan  setelah  melewati  makhal (tempat),

b)      Ragu  setelah  melewati  waktu  sholat,

c)      Ragu setelah selesai dari sholat dengan syarat salah satu keraguan itu dibenarkan,

d)      Keraguan yang banyak dan tolak ukurnya kembali pada 'urut (kebiasaan masyarakat secara umum), serta tidak jauh dari pendapat yang benar dapat dikategorikan keraguan itu banyak, bila berturut-turut ragu dalam 3 kali sholat,

e)      Keraguan dari imam dn ma'mum dalam bilangan roka'at sholat sedangkan salah satu dari keduanya mengingat bilangan roka'at itu, maka orang yang ragu dari keduanya supaya kembali kepada yang lain dan hukum keraguan tetap diperlakukan dalam perbuatan itu juga. Adapun bila keraguan  itu diperoleh dari keduanya, bila keraguan mereka berdua itu satu, maka setiap dari keduanya mengamalkan sesuai hukum keraguan dan bila berbeda serta tiada diantara keduanya memiliki keterkaitan supaya ma'mum memisahkan sholat dari imam, dan setiap dari mereka mengamalkan sesuai dari keraguan masing-masing. Adapun bila diantara keduanya memiliki keterkaitan, maka supaya keduanya melakukan sesuai atas keraguan tersebut dan yang lebih hati-hati setelah menyelesaikan sholatnya supaya mengulangi sholat.

f)        Ragu dalam bilangan roka'at sholat nafilah, dia boleh memilih meletakkan pada bilangan yang kecil atau meletakkan pada bilangan yang besar  yang pertama itu lebih afdlol. Ia kalau menetapkan bilangan yang besar dapat  membatalkan  sholat, maka supaya dia menetapkan pada bilangan yang kecil.

Dzan  (Dugaan)

-----------------------

Masalah 1

Menduga dalam bilangan roka'at sholat seperti memperoleh keyakinan secara mutlak.  Sekalipun  dalam sholat yang memiliki bilangan 2 roka'at dan 3 roka'at dan dua roka'at pertama dari sholat yang memiliki bilangan 4 roka'at. Akan tetapi yang lebih hati-hati untuk selain  2 roka'at terakhir dari sholat yang memiliki bilangan 4 roka'at mengamalkan sesuai dasar dzon (dugaan) kemudian mengulangi sholatnya.

Masalah 2

Memiliki anggapan dzon dalam perbuatan-perbuatan sholat didapatkan isygal, maka harus melakukan ikhtiyat dalam suatu perbuatan, kalau perbuatan tersebut tidak sesuai dengan pengamalan hukum keraguan sebagaimana kalau seseorang menduga mendatangi suatu perbuatan sedangkan dia belum melewati tempat yang diragukan, maka supaya dia mendatangi suatu perrbuatan seperti melakukan qiro'at dengan tujuan niat meendekatkan diri kepada Alloh SWT. Dalam contoh seperti ruku' supaya orang tersebut mengulangi sholatnya setelah mendatangi ruku' yang diragukan itu.

 

Roka'at - roka'at   Ikhtiyat

--------------------------------------

Masalah 1

Roka'at-roka'at  ikhtiyat itu  wajib,  maka tidak boleh meninggalkannya dan mengulangi sholat dari pertama dan wajib bersegera melakukan roka'at ikhtiyat setelah selesai dari sholatnya, sebagaimana tidak boleh memisahkan diantara keduanya dengan perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan sholat, maka apabila seseorang melakukan perbuatan yang dapat membatalkan sholat, sesuai pendapat yang lebih hati-hati supaya dia tetap mendatangi roka'at ikhtiyat kemudian mengulangi sholatnya. Ia kalau seseorang memiliki kejelasan sehingga dia tidak dituntut melakukan sholat al ikhtiyat, sedangkan dia belum memulai melakukan sholat tersebut maka tidak wajib mendatanginya.

Masalah 2

Merupakan keharusan dalam sholat ikhtiyat memiliki niat, takbiratul ihram  dan pembacaan  surat al Fatihah  sesuai pendapat yang lebih hati-hati tidak mengeraskan pembacaan surat dan pembacaan basmalahnya juga. Sholat ikhtiyat disertai  ruku', sujud, tasyahud, salam dan tiada qunut dalam sholat tersebut sebagaimana juga tiada kewajiban membaca surat setelah pembacaan al Fatihah.

Masalah 3

Kalau seseorang  ragu  melakukan sholat ikhtiyat bila keraguan itu setelah melewati waktu maka tidak dianggap dan bila keraguan itu dalam waktu sedangkan dia dan belum melakukan perbuatan lain dan belum melakukan perbuatan yang dapat membatalkan sholat serta belum terpisah terlalu panjang maka ditetapkan  dia belum melakukan sholat ikhtiyat dan bila disertai salah satu dari 3 perkara itu untuk ditetapkan,  dia telah mendatangi sholat ikhtiyat maka diperselisihkan, akan tetapi menurut pendapat yang lebih hati-hati supaya dia mendatangi sholat ikhtiyat kemudian mengulangi sholatnya.

 

Masalah 4

Kalau seorang ragu dalam perbuatan dari af'al sholat ikhtiyat supaya dia mendatanginya, kalau orang tersebut dapat melakukan susulan atasnya dan ditetapkan dia telah mendatangi perbuatan itu kalau sudah melewati tempatnya dan kalau seseorang ragu dalam bilangan roka'at sholat ikhtiyat, maka sesuai pendapat yang kuat  wajib baginya menetapkan pada bilangan yang lebih besar, kecuali ketika menetapkan bilangan yang lebih besar itu dapat membatalkan sholat maka harus menetapkan pada bilangan roka'at yang lebih kecil, akan tetapi sesuai pendapat yang lebih hati-hati, setelah menyelesaikan aturan sholat tersebut supaya mengulangi sholat ikhtiyat kemudian mengulangi asal sholat yang dilakukan olehnya.

Masalah 5

Kalau seseorang lupa  melakukan sholat ikhtiyat dan dia melakukan sholat yang lain seperti  sholat nafilah atau fardlu, supaya dia memutuskan sholatnya dan mendatangi sholat ikhtiyat, secara khusus bila sholat yang kedua itu urutan yang tertib dari sholat yang pertama dan menurut pendapat yang lebih hati-hati setelah menyelesaikan sholatnya mengulangi sholat dari pertama, ini apabila perbuatan itu  tidak merusak sholat secara langsung dan apabila dapat merusak sholat maka tidak jauh dari pendapat yang benar, wajib (melakukan udul) merubah niat pada asal sholat bila sholat itu tertib dan sesuai dengan pendapat yang lebih hati-hati mengulangi sholatnya juga dan bila sholat tersebut tidak tertib supaya mengangkat tangan darinya (membatalkannya) dan mengulangi sholatnya.

Bagian-bagian  Sholat yang Dilupakan

------------------------------------------------------

Masalah  1

Bagian sholat yang ditinggalkan/dilupakan itu tidak di qodlo kecuali sujud dan tasyahhud. Sesuai pendapat yang hati-hati secara khusus dalam tasyahhud supaya diniatkan keduanya itu mengqodlo bagian yang dilupakan dan sesuai pendapat yang kuat tiada kewajian mengqodlo bagian-bagian tasyahhud sekalipun bacaan sholawat kepada Nabi dan keluarganya.

Masalah  2

Tak wajib melakukan salam dalam mengqodlo tasyahhud sebagaimana tidak wajib melakukan tasyahhud dan salam  dalam mengqodlo sujud. Kalau tasyahhud akhir yang dilupakan maka sesuai pendapat yang lebih hati-hati mendatangi tasyahhud dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah secara mutlak tanpa menyertai memiliki niat  ĎAda-an atau Qodlo-an. Kemudian melakukan salam setelah tasyahhud sesuai pendapat yang lebih hati-hati. Kemudian mendatangi/melakukan sujud sahwi.

Masalah  3

Kalau seseorang meyakini dirinya lupa tidak melakukan sujud/tasyahhud sedangkan tempat melakukan susulan  dari keduanya terlewatkan, kemudian setelah selesai dari sholat keyakinan berubah menjadi keraguan maka sesuai pendapat yang lebih hati-hati wajib melakukan qodlo sekalipun menurut pendapat yang kuat  tiada kewajiban melakukan qodlo itu.

Masalah  4

Wajib dalam sujud  tersebut memiliki  niat yang diikutsertakan pada awal perbuatannya dan tidak wajib menentukan sebab melakukan sujud sahwi, sekalipun ia dituntut untuk melakukan itu lebih dari  satu kali. Dan tidak wajib melakukan takbir sekalipun hukum takbir lebih hati-hati. Dan sesuai pendapat ikhtiyat, seluruh kewajiban dalam sujud melakukan sholat secara khusus meletakkan 7 anggota sujud. Sesuai pendapat yang kuat yang penting perbuatan itu dinamakan sebagai sujud. Sebagaimana menurut pendapat yang lebih hati-hati dalam sujud sahwi membaca dzikir secara khusus maka dalam setiap kedua sujud tsb mengucapkan :

n      Bismillah wa billah wa shalallahu Ďala muhammadin wa aali  muhammad,  atau

n      Bismillah wa billah  Allahuma shalli alla muhammad wa aali muhammad,  atau

n      Bismillah wa billah as-salaamu Ďalayka ayyuhan  nabiyyu  wa rahmatullahi  wa barakaatuh.

Dan yang lebih hati-hati memilih bacaan terakhir. Akan tetapi tiada kewajiban membaca dzikir secara khusus  sesuai pendapat yang kuat. Dan wajib setelah sujud terakhir melakukan tasyahhud dan salam.